09
Oct
09

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Semoga ilmu bahasa Arab yang tertera dibawah ini bisa bermanfaat untuk kita semua, Amin.

Selamat mempelajari.

Foto(096)

Pelajaran Nahwu 1 (الكلمة)

Bismillahirrahmanirrahim..

Memasuki pembahasan detail ilmu nahwu. Pertama-tama, kita awali dengan pembahasan mengenai “kata” (الكلمة).

kata (الكلمة)

Kata (dalam ilmu nahwu diistilahkan al-kalimah) terdiri dari 3 jenis.

  1. Isim (الإسم) = kata benda.
    Yaitu kata yang menunjukkan makna orang, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda benda, banda mati, tempat, waktu, atau kata benda abstrak.
    Contoh:

    رَجُلٌ (rojulun) = seorang lelaki,

    أَسَدٌ (asadun) = singa,

    زَهْرَةٌ (zahrotun) = bunga,

    قَمَرٌ (qomarun) = bulan,

    القاَهِرَةُ (Alqoohiroh) = Kairo,

    يَومٌ (yaumun) = hari,

    اِسْتِقْلالٌ (istiqlaalun) = kemerdekaan.

    Kita dapat mengenal isim pada kalimat dengan ciri-ciri berikut:

    • Berakhiran kasroh, seperti أنا في البَيْتِ, maka kata البيتِ adalah isim, sebab berakhiran kasroh.
    • Berakhiran tanwin, seperti رأيتُ رَجُلاً, maka kata رَجُلاً adalah isim, sebab berakhiran tanwin.
    • Diawali dengan alim lam, seperti الشمسُ شرقَتْ, maka kata الشمسُ adalah isim sebab diawali alim lam.
    • Di dahului huruf jar (kata depan), seperti نَظَرْتُ إلى السماء, karena إلى merupakan huruf jar, maka kata setelahnya yaitu السماء adalah isim.
  2. Fi’il (الفِعل) = kata kerja.
    Yaitu kata yang menunjukkan suatu makna yang berkaitan dengan waktu (lampau, sekarang, dan akan datang).
    Contoh:

    كَتَبَ (kataba) = dia (lk) telah menulis.

    يَكْتُبُ (yaktubu) = dia (lk) sedang/akan menulis.

  3. Huruf (الحرْفُ) = kata depan, kata penghubung, atau kata sambung.
    Yaitu kata yang tidak bisa dipahami maknanya kecuali jika disandingkan dengan kata lain.
    Contoh:

    مِنْ (min) = dari,

    إلى (ila) = ke,

    فِي (fi) = di,

    بِ (bi) = dengan,

    وَ (wa) = dan,

    أوْ (aw) = atau,

    ثُمَّ (tsumma) = kemudian, dll.

09
Oct
09

Pelajaran Nahwu 2 (الجملة المفيدة)

Setelah mempelajari kata (isim, fi’il, dan huruf), kita masuki pembahasan baru, yaitu kalimat sempurna.

dalam bahasa arab diistilahkan dengan الجُمْلَةُ المُفِيْدَةُ (jumlah mufidah).

Kalimat Sempurna (الجُمْلَةُ المُفِيْدَةُ)

Kalimat sempurna adalah setiap lafadz yang terdiri dari dua kata atau lebih dan memberikan makna yang sempurna.
Misalnya :

* Lafadz قَـامَ زَيْدٌ (Qooma Zaidun) = Zaid berdiri, terdiri dari dua kata dan memberikan makna yang sempurna, maka dinamakan kalimat sempurna.

* Lafadz أبو عَلِيٍّ (Abu ‘Aliyyin) = Bapaknya Ali …, terdiri dari dua kata, tapi tidak memberikan makna sempurna (tidak ada keterangan yang menjelaskan keadaan Bapak Ali), sehingga tidak dapat dikatakan kalimat sempurna, baru dikatakan kalimat sempurna jika lafadznya
أبو عليٍّ مَريْضٌ (Abu ‘Aliyyin Mariidhun) = Bapaknya Ali sakit.

Peringatan!

Lafadz اِجْلِسْ (Ijlis) = duduklah, sekalipun hanya terdiri dari satu kata, tetapi dikategorikan kalimat sempurna, sebab asal kalimatnya adalah اِجْلِسْ أَنْتَ (Ijlis anta) = duduklah kamu, hanya saja kata “أنتَ” (anta) nya tidak disebutkan.

Untuk selanjutnya kita ganti istilah “kalimat sempurna” dengan istilah jumlah mufidah.

Pembagian Jumlah Mufidah

Jumlah mufidah di dalam bahasa arab terbagi kepada dua:

1. Jumlah Ismiyyah.
Yaitu jumlah yang diawali dengan isim. Seperti:

* أحَمدُ طالِبٌ (Ahmadu thoolibun) = Ahmad adalah seorang siswa. Jumlah (kalimat) tersebut diawali dengan أحمد sehingga dinamakan jumlah ismiyyah.

* Demikian juga dengan kalimat زَيْـنَـبُ تَـكْتُـبُ رِسَـاَلةً (Zainabu taktubu risalaatan) = Zainab menulis sebuah surat.

2. Jumlah Fi’liyyah.
Yaitu jumlah yang diawali dengan fi’il. Seperti:

* سَافَـرَ محمدٌ (Saafaro Muhammadun) = Telah berpergian Muhammad. Jumlah (kalimat) tersebut diawali dengan سَافَـرَ (Saafaro), dimana سَافَـرَ merupakan fi’il, sehingga dinamakan jumlah fi’liyyah.

* Demikian juga kalimat ضَرَبَ الوَلَدُ كَلْباً (Dhoroba al-waladu kalban) = Telah memukul anak itu seekor anjing

Perhatian!
Dalam Bahasa Indonesia, kedua jumlah fi’liyyah di atas diterjemahkan :

Muhammad telah berpergian;
Anak itu telah memukul seekor anjing

09
Oct
09


Pelajaran Nahwu 3 (الإعراب)

Pengertian I’rob (الإعراب)

I’rob adalah perubahan akhir kata karena perbedaan ‘amil yang masuk pada kata tersebut, baik secara lafadz (jelas) atau muqoddaroh (tersembunyi). (Sumber: matan Al Ajrumiyyah)

* perubahan
Maksudnya adalah perubahan dari dhommah ke fathah, dari fathah ke kasroh, dari dhommah ke sukun, dst.
* akhir kata
I’rob hanya membahas akhir kata saja, tidak di depan dan tidak di tengah kata.
* karena perbedaan ‘amil yang masuk ke dalam kalimat.
Perbedaan ‘amil akan mengakibatkan perbedaan kedudukan suatu kata di dalam kalimat. Jadi perubahan akhir kata disebabkan oleh kedudukannya (sebagai subjek, objek, dst) yang berbeda-beda di dalam kalimat.
* secara lafadz
Tanda akhir katanya jelas, terlihat, dan terbaca, seperti dhommah, fathah, kasroh.
* atau muqoddaroh.
Tanda akhir katanya tidak terlihat dan tidak terbaca, dan ini dialami oleh kata-kata yang berakhiran huruf ‘illah (huruf berpenyakit). Huruf-huruf ‘illah ada 3 : alif (ى / ا), ya (ي), dan wawu (و).


Contoh I’rob

* Kalimat جَـاءَ زيَـْدٌ (jaa-a Zaidun) = Zaid telah datang.

Kata زيَـْدٌ (Zaidun) berakhiran dhommah. Kenapa dhommah?
Karena ‘amil dari kalimat ini (yaitu جَـاءَ = telah datang) menyebabkan kedudukan Zaid menjadi subjek (yang datang adalah si Zaid). Secara kaidah (yang nanti akan lebih dijelaskan lagi), bahwa subjek ber-i’rob rofa’, dan tanda rofa’ adalah dhommah.

* Kalimat رَأيْتُ زَيْداً (ro-aitu Zaidan) = Saya melihat Zaid.

Kata زَيْداً (Zaidan) berakhiran fathah. Kenapa fathah?
Karena ‘amil dari kalimat ini (yaitu رَأيْتُ = saya melihat) menyebabkan kedudukan Zaid menjadi objek (yang dilihat adalah si Zaid). Secara kaidah (yang nanti akan lebih dijelaskan lagi), bahwa objek ber-i’rob nashob, dan tanda nashob adalah fathah.

* Kalimat مَرَرْتُ بِزَيْدٍ (marortu bi Zaidin) = Saya berpapasan dengan Zaid.

Kata زَيْدٍ (Zaidin) berakhiran kasroh. Kenapa kasroh?
Karena ‘amil dari kalimat ini adalah huruf jarr (yaitu : بِ (bi) = dengan), dan setiap kata benda yang didahului oleh huruf jarr, maka i’robnya adalah jarr (khofadh), dan tandanya adalah dengan kasroh.

Kata “Zaid” (زيَـْد) pada ketiga kalimat di atas mengalami perubahan di akhir katanya secara lafadz (jelas terlihat dhommah, fathah, dan kasrohnya). Jika kata “Zaid” (زيَـْد) diganti dengan “Musa” (مُوْسَى), maka perubahannya tidak secara lafadz, tetapi secara muqoddaroh, karena kata مُوْسَى mengandung huruf ‘illah di akhirnya , yaitu alif (ى). Maka kalimatnya akan menjadi:

* جَـاءَ مُوْسَى (jaa-a Muusaa) = Musa telah datang.
* رَأيْتُ مُوْسَى (ro-aitu Muusaa) = Saya melihat Musa.
* مَرَرْتُ بِمُوْسَى (marortu bi Muusa) = Saya berpapasan dengan Musa.

Perhatikan, kata (مُوْسَى) tidak terlihat mengalami perubahan, namun sebenarnya kata “Musa” (مُوْسَى) pada ketiga kalimat di atas mengalami perubahan (dhommah, fathah, dan kasroh) seperti yang dialami oleh kata “Zaid” زيَـْد, akan tetapi perubahannya secara muqoddaroh (tersembunyi).

Macam-macam I’rob

Tadi sudah sekilas disinggung tentang macam-macam i’rob. I’rob terdiri dari 4 macam:

1. Rofa’ (رَفْعٌ)

Tanda aslinya adalah dhommah

2. Nashob (نَصْبٌ)

Tanda aslinya adalah fathah

3. Jarr (جَرٌّ) atau Khofad (خَفْضٌ), untuk selanjutnya kita gunakan “jarr”.

Tanda aslinya adalah kasroh

4. Jazm (جَزْمٌ)

Tanda aslinya adalah sukun

Catatan

* Catatan pertama:

  • isim (kata benda) hanya memiliki 3 jenis i’rob, yaitu rofa’, nashob, dan jarr.
  • fi’il mudhori’ (kata kerja masa sekarang/akan datang), i’robnya juga 3, yaitu rofa’, nashob, dan jazm.
  • fi’il madhi (kata kerja masa lampau), i’robnya tidak ada, karena fi’il madhi tidak bisa mengalami perubahan pada akhir katanya.
  • huruf, i’robnya juga tidak ada, huruf dihukumi mabni seperti fi’il madhi, yaitu tidak bisa mengalami perubahan pada akhir katanya.

* Catatan kedua:

Tidak semua isim memiliki i’rob.

Ada beberapa isim yang tidak bisa mengalami perubahan di akhir katanya, seperti هذا (hadza) = ini, الذي (alladzi) = yang, مَتَى (mataa) = kapan, dll.
Isim-isim ini dinamakan isim mabni, sementara isim-isim yang dapat mengalami perubahan di akhir katanya (yang memiliki i’rob) dinamakan isim mu’rob.
* Catatan ketiga:

Tidak semua tanda rofa’ itu dhommah, tanda nashob itu fathah, tanda jarr itu kasroh, tanda jazm itu sukun.

Tanda-tanda tersebut hanya berlaku untuk isim mufrod (seperti “Zaid” dan “Musa” pada contoh di atas) dan jama’ taksir (yang bukan ghoiru munshorif).

Adapun isim-isim lainnya, seperti isim mutsanna, isim jama’ muannats salim, isim jama’ mudzakkar salim, isim asmaa-ul khosamah, isim ghoiri munshorif, isim maqshur dan isim manqush memiliki tanda-tanda rofa’, nashob, dan jarr yang agak berbeda. InsyaAlloh akan dibahas pada Pelajaran Nahwu 4 (tanda-tanda i’rob untuk semua isim tersebut).
* Catatan keempat:

Tidak semua yang rofa’ itu subjek, Tidak semua yang nashob itu objek, dan Tidak semua yang jarr itu yang diawali oleh huruf jarr.

Nanti akan dibahas pada pelajaran berikutnya, kedudukan-kedudukan apa saja yang menyebabkan isim (kata benda) ber-i’rob rofa’, nashob, dan jarr. Dan apa saja yang menyebabkan fi’il mudhori’ (kata kerja sekarang/masa depan) ber-i’rob rofa’, nashob, dan jazm. Sebagai bayangan,

  • isim yang ber-i’rob rofa’, selain fa’il (subjek), juga naibul fa’il, mubtada’, khobar, isim kaana, dan khobar inna..
  • isim yang ber-i’rob nashob, selain maf’ulun bihi (objek), juga khobar kaana, isim inna, maf’ul muthlaq, istitsna, haal, tamyiz, dll
  • isim yang ber-i’rob jarr, selain majrur (yang didahului oleh huruf jarr), juga mudhof ilaihi.
  • fi’il (mudhori’) yang ber-i’rob nashob adalah yang didahului oleh alat-alat penashob, seperti أَنْ (an), حتى (hatta), dll.
  • fi’il yang ber-i’rob jazm adalah yang didahului oleh alat-alat penjazm, seperti لَـمْ (lam), dll.
  • fi’il yang ber-i’rof rofa’ adalah yang tidak didahului oleh alat penashob ataupun alat penjazm.

InsyaAlloh semuanya itu akan dibahas secara mendetail pada pelajaran berikutnya.

08
Oct
09

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Alhamdulillah..Semoga pelajaran ini dapat bermanfaat bagi kita semua, adapun Nahwu 4 InsyaAlloh secepatnya akan di terbitkan.

Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

08
Oct
09

BIODATA

BIODATA

KeREn

Nama :  Hendra Utama
Jenis Kelamin:  Laki-laki
Tempat, Tanggal Lahir:  Jakarta, 31 Mei 1990
Agama:  Islam

Untuk memperdalam silahkan pelajari bagian Shorof di: 

http://hendrautamaislam.blogspot.com/




January 2012
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Months


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.